Perjalanan Pilar 1 STBM di Puskesmas Sikumana Featured

Ditulis Oleh | Sabtu, 12 Oktober 2019 14:14 | Dibaca : 180 Kali | Terakhir Diperbaharui : Sabtu, 12 Oktober 2019 14:33
Monitoring SBS Sanitarian dan Lurah Kolhua Monitoring SBS Sanitarian dan Lurah Kolhua

Stop Buang Air Besar sembarangan (SBS)  adalah suatu kondisi ketika suatu individu dalam suatu komunitas tidak melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi menyebarkan penyakit.

Sejak tahun 2008 Puskesmas Sikumana dan PANSIMAS telah gencar melakukan aksi Pemicuan diberbagai lokasi dienam  Kelurahan di Wilayah Kecamatan Maulafa  yang menjadi lokus BABS.  Kegiatan Pemicuan ini  berguna untuk memancing rasa jijik, rasa malu , rasa takut sakit dan rasa berdosa sehingga masyarakat dapat menghentikan kebiasaan Buang air Besar (BABS) tersebut. Tentunya ini bukan perkara yang mudah untuk merubah perilaku masyarakat, hal ini terkait dengan pemahaman masyarakat tentang sanitasi sebagai suatu kebutuhan dasar. Tetapi dengan dukungan lintas sektor seperti  Ketua RT/RW, Lurah dan Camat maka pada tahun 2014 keenam Kelurahan tersebut dinyatakan bebas dari BABS atau biasa disebut  Open Defecation Free (ODF).

Tapi apakah predikat Kelurahan ODF akan menjamin bahwa perubahan perilaku SBS  akan permanen?  Tentu tidak ada banyak faktor yang bisa membuat masyarakat kembali pada perilaku lama yang tidak sehat. Karena itu perlu adanya pendampingan dan pemberian edukasi yang terus menerus oleh sanitarian Puskesmas Sikumana . Dalam Pemetaan STBM tahun 2017  terdapat Dua lokasi yang masih potensial untuk BABS  yaitu satu Lokasi di Kelurahan Fatukoa dan satu Lokasi  di Kelurahan  Kolhua .Hal ini disebabkan karena  terbatasnya  Kepemilikan Jamban Keluarga dan akses air bersih yang terbatas, sehingga keadaan ini akan mendorong perilaku BABS terutama bagi anak-anak Balita.  Karena itu Sanitarian Puskesmas Sikumana bekerjasama dengan Lurah dan Staf Kelurahan Kolhua dan Fatukoa  untuk melakukan kunjungan secara rutin pada lokasi tersebut dan memberi penyuluhan secara intens.

Selain itu dalam forum –forum pertemuan tingkat Kelurahan dan Kecamatan seperti MMD, Musrembang dan Minilokkarya Lintas Sektor  juga dibahas tentang  Perilaku SBS ini. Bahkan Puskesmas Sikumana juga menjalin Kemitraan dengan Pihak Gereja untuk bisa memotivasi jemaat untuk membiasakan anak-anak BAB di Jamban dalam Suara Gembala maupu kunjungan langsung ke Rumah Warga. Dengan demikian makin banyak Pihak yang dapat berpartispasi mendukung Keberlanjutan STBM  di wilayah Kerja Puskesmas Sikumana.  Karena Sesungguhnya tujuan dari pendidikan Kesehatan Masyarakat adalah perubahan perilaku yang mempunyai tiga dimensi yaitu : merubah perilaku negatif (perilaku tidak sehat) menjadi perilaku positif (perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan, membentuk dan mengembangkan perilaku sehat, memelihara perilaku postif atau mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada.  Dengan berbagai upaya yang dilakukan  diharapkan Perilaku SBS ini dapat dikembangkan pada empat pilar STBM yang lain yaitu Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah tangga (PAMM-RT), Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PS-RT) dan Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC-RT). Jika 5 Pilar ini sudah tercapai maka tidak sulit lagi untk mengejar 3 pilar lagi dalam Program STBM -stunting  yaitu Gizi pada Ibu Hamil, Pemberian Makanan tambahan Bayi dan anak (PMBA) serta Pemantauan Pertumbuhan secara rutin.

Regina Elesley Boru, SKM

Admin Website, Sanitarian di Puskesmas Sikumana sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Beri Komentar

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.